Pusat Sumber Belajar SMA Negeri 6 Malang Pusat Sumber Belajar SMA Negeri 6 Malang Pusat Sumber Belajar SMA Negeri 6 Malang Pusat Sumber Belajar SMA Negeri 6 Malang

BENARKAH KURIKULUM 2006 LEBIH MERINGANKAN GURU?
Dengan diberlakukannya kurikulum 2013, ada beberapa kesan para praktisi pendidikan khususnya pendidik, yaitu (1) regulasinya berubah-ubah, masih banyak inkonsistensi antar permen satu dengan yang lain bahkan dalam satu permen-pun ada yang kontradiktif dalam istilah dan substansi sehingga terkesan kebijakannya tergesa-gesa; (2) pada proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik terkesan “kaku” harus urut dan sistematik dalam menerapkan 5M mulai mengamati sampai mengomunikasikannnya; dan (3) terkesan sangat ribet khususnya pada jenis dan tekik penilaian autentik mulai dari penilaian pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Dari keluhan-keluhan di atas, maka ada hasrat dan gumaman “lebih enak” menggunakan kurikulum 2006 (sengaja saya menggunakan istilah yang benar secara regulasi, tidak menggunakan istilah KTSP), karena saat menerapkan kurikulum 2006 “tidak dituntut” macam-macam dan sangat praktis serta sudah merasa “enjoy”.
Dari beberapa fakta di atas, menimbulkan keresahan untuk mencari tahu, apa benar kurikulum 2013 (K13) diterapkannya tergesa-gesa dan ribet? Apakah kurikulum 2006 (K06) lebih praktis dan tidak memberatkan guru?


Berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri, untuk menerapkan K06 yang benar-benar benar itu harus melalui tahapan yang disebut dengan analisis konteks, dan seluruh tenaga pendidik dan kependidikan, kepala sekolah, dan komite sekolah harus memahami hal-hal berikut ini:
1. Standar Isi (SI) yang tertuang dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006, di permen ini hanya terdapat standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), pendidik mengembangkannya menjadi silabus, RPP, dan bahan ajar.
2. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang tertuang dalam Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006, di permen ini SKL dikelompokkan menjadi SKL satuan pendidikan, SKL kelompok matapelajaran, dan SKL matapelajaran
3. Standar Pendidik dan Tenaga kependidikan, ada di permendiknas 16 (tenaga pendidik) dan 13 (kepala sekolah)
4. Standar pengelolaan, permendiknas Nomor 19 Tahun 2007
5. Standar Penilaian, permendiknas Nomor 20 Tahun 2007
6. Standar Sarana dan Prasarana, permendiknas No 24 Tahun 2007
7. Standar Proses, Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007
8. Standar Pembiayaan, permendiknas Nomor 69 Tahun 2009
9. Pentahapan Analisis Konteks
10. Pengembangan KTSP
11. Penyusunan RKAS dan RKJM
12. Pengembangan silabus
13. Pengembangan RPP
14. Pengembangan Bahan Ajar

Dalam mengembangan KTSP dan RKAS (Rencana kegiatan dan anggaran sekolah) serta RKJM (rencana kerja jangka menengah), maka satuan pendidikan harus melakukan analisis konteks, yaitu melakukan:
1. Analisis/Identifikasi terhadap 8 Standar Nasional (SNP)
2. Analisis/identifikasi Kondisi Internal Satuan Pendidikan (Pendidik, tenaga kependidikan, Peseta didik, sarpras)
3. Analisis/identifikasi Kondisi Lingkungan Eksternal satuan Pendidikan (Komite instasi lain, sekolah/Orangtua, DUDI, dsb)

Produk dari analisis konteks di atas adalah RKAS dan RKJM, Dokumen KTSP berupa Buku I dan Buku II (Silabus yang benar-benar dikembangkan oleh guru sesuai dengan potensi internal satuan pendidikan, potensi lingkungan eksternal) bukan sekedar “COPY PASTE” dari sekolah lain sehingga terkesan sangat “RINGAN” bagi guru.
Apabila silabus masing-masing matapelajaran sudah dikembangkan, maka guru wajib mengembangan RPP dan bahan ajar (bisa handout, worksheet, media pembelajaran, dsb) termasuk di dalamnya merancang teknik dan jenis penilaian berdasarkan silabus yang sudah disusun/dikembangkan dan sudah sesuai dengan kondisi sekolah. Khusus tentang penilaian juga ada penilaian kognitif, afektif, dan psikomotor yang harus disertai pedoman penilaian maupun rubrik penilaian.
Tahap berikutnya, jelas guru berkreasi melaksanakan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan silabus, RPP, dan bahan ajar yang sudah dikembangkan sesuai kondisi sekolah dan lingkungan sekolah.
Dari uraian di atas, kurikulum 2006 itu lebih “ideal” karena sesuai dengan kondisi riil sekolah masing-masing asalkan dalam pengembangannya mulai KTSP (buku I dan II), RPP, Bahan Ajar benar-benar dikembangkan dan disusun melalui tahapan yang disebut Analisis Konteks, bukan sekedar “COPY PASTE” dari guru atau sekolah lain. Apabila tahapan tersebut dilalui dengan benar, maka KTSP (Buku I dan II)—RPP---Bahan Ajar akan “MATCHING” dan benar-benar ideal.
Pertanyaannya sekarang:
1. Sudahkah setiap satuan pendidikan sudah melakukan tahapan analisis konteks
2. Sudahkah guru mengembangkan silabus berdasarkan tahapan analisis konteks
3. Sudahkah guru mengembangkan RPP dan bahan ajar berdasarkan silabus yang dikembangkan berdasarkan tahapan analisis konteks
4. Sudahkan guru merancang dan mengembangkan teknik, jenis, dan instrumen penilaian sesuai prosedur yang standar
Jawabannya ada di nurani kita masing-masing.

Pilihan selanjutnya juga ada di nurani kita masing-masing.

Hariyanto

  • Panitia HUT RI Panitia
    Panitia HUT RI Pada Narsis